Gejala dan Penyebab Irritable Bowel Syndrome atau Sindrom Kolon Iritabel


Gejala dan Penyebab Irritable Bowel Syndrome atau Sindrom Kolon Iritabel

Sindrom Kolon Iritabel (SKI) merupakan nyeri abdomen berulang atau ketidak nyamanan abdomen (sensasi tidak nyaman yang tidak bisa dikatakan sebagai nyeri) paling tidak 3 hari dalam satu bulan pada 3 bulan terakhir yang berhubungan dengan 2 atau lebih hal berikut:

  1. Perbaikan gejala setelah defekasi
  2. Onset berhubungan dengan perubahan frekuensi defekasi
  3. Onset berhubungan dengan perubahan bentuk feses
  • Dikatakan positif jika kriteria terpenuhi pada 3 bulan terkahir dengan onset paling tidak 6 bulan sebelum didiagnosis. 

Sindrom kolon iritabel dibagi menjadi beberapa subtipe berdasarkan konsitensi feses yaitu tipe konstipasi, tipe diare, tipe campuran, dan tipe lainnya 

Penyebab sindrom ini belum diketahui pasti, diperkirakan karena beberapa faktor pencetus seperti:

  • Gangguan Motilitas
  • Kemungkinan terdapat gangguan intestinal inhibitory reflex karena distensi kolon tidak dapat mengurangi motilitas duodenal.
  • Hipersensitivitas viseral
  • Yaitu sensitivitas terhadap nyeri yang meningkat pada stimulasi usus. Hal ini yang menyebabkan nyeri kronik pada pasien ini.
  • Post Infeksi
  • Biasa terjadi setelah infeksi Shigella, Salmonella dan Campylobacter, ditandai dengan meningkatnya jumlah limfosit dan sel mast pada mukosa usus
  • Faktor dalam lumen yang merangsang kolon
  • Komponen dalam makanan ( eksogen) atau faktor kimiawi ( endogen) yang terlibat dalam proses pencernaan. Faktor endogen seperti hormon kolesistokinin (CCK) dapat mempercepat motilitas sigmoid
  • Respon terhadap stress
  • Stress yang berasal dari lingkungan dan riwayat penyiksaan masa kanak-kanak adalah faktor predisposisi.

  • Nyeri pacta abdomen bagian bawah dengan kelainan pola defekasi selama periode waktu tertentu tanpa progresivitas penyakit. Keluhan muncul selama stress atau perubahan emosional tanpa disertai keluhan sistemik.
  • Apakah nyeri dirasakan hanya pada satu tempat atau berpindah-pindah, seberapa sering merasakan nyeri, berapa lama nyeri dirasakan, bagaimana keadaan nyeri jika pasien defekasi atau flatus memenuhi kriteria Rome III. 
  • Pada anamnesis juga perlu menyingkirkan tanda-tanda “alarm” seperti: usia> 55 tahun, riwayat gejala yang progresif atau sangat berat, riwayat keluhan pertamakali kurang dari 6 bulan, berat badan menurun, gejala nokturnal,laki-laki, riwayat kanker kolon pacta keluarga, anemia, anoreksia, perdarahan rektal, anemia, distensi abdomen, demam. 

Pemeriksaan Fisik

  • Perut tampak kembung atau distensi, kadang dapat teraba kolon pada fosa iliaka kiri (86%) disertai nyeri tekan (78%), bising usus meningkat pada fosa iliaka kanan(36%). Pada colok dubur didapatkan adanya rasa nyeri (52%), rectum kosong (64%), feses yang keras dalam rectum (68%), dan lendir yang banyak. 

Pemeriksaan Penunjang

  • Laboratorium: dilakukan untuk mencari etiologi lain misalnya pemeriksaan darah lengkap,
  • Pemeriksaan hormon TSH dan serologis sesuai indikasi.
  • Pemeriksaan feses: melihat adanya darah samar, bakteri a tau paras it jika dicurigai pada kasus diare kronik
  • Rontgen abdomen: jika dicurigai adanya penyakit Chron atau ada obstruksi
  • Kolonoskopi atau sigmoidoskopi: dilakukan sesuai indikasi.
  • Stress analyzer/ Heart rate variability untuk menilai vegetative imbalance

Diagnosis Banding

  • Intoleransi laktosa –> diperiksa dengan hydrogen breath test
  • Intoleransi makanan 
  • Infeksi
  • Penyakit Celiac –> diidentifikasi dengan analisis kadar IgA, antibodi anti transglutaminase
  • Pertumbuhan bakteri usus halus berlebih ~ ditandai malabsorpsi nutrient
  • Inflammatory bowel disease –> ditandai anemia, leukositosis. Kolonoskopi: inflamasi, eritema, eksudat, ulserasi
  • Kolitis mikroskopik
  • Divertikulitis
  • Obstruksi mekanis pada usus halus
  • Iskemia
  • Maldigesti
  • Malabsorbsi
  • Penyakit hati dan kandung empedu
  • Pankreatitis kronik
  • Endometriosis

  • Penjelasan mengenai penyakit yang diderita dapat disembuhkan
  • Menjaga asupan tinggi serat dan menghindari makanan yang menjadi pencetus keluhan. Menghindari kafein, produk olahan, makanan berlemak, gandum, bawang, coklat.
  • Terapi perilaku: terutama pada pasien usia muda yang stressor psikososial cukup tinggi.
  • Olah raga teratur dan menjaga asupan cairan yang cukup

Farmakologis

  • Anti spasmodik yang bersifat anti kolinergik: dicyclomine 10-20 mg ( 1-3 x sehari), hyosin N-butilbromida 3×10 mg.
  • Obat anti diare: loperamid 2-16 mg sehari, diphenoxylate hydrochlorideatropine sulfate, cholestyramine resin
  • Obat memperbaiki konstipasi: laksatif osmotif seperti laktulosa, tegaserod
  • Obat anti ansietas: antidepresan trisiklik, Selective Serotonin Re-uptake Inhibitors (SSRI)

Probiotik

KOMPLIKASI

  • Sindrom kolon irritabel tidak menyebabkan komplikasi yang berbahaya. Beberapa gangguan akibat Sindrom Kolon Iritabel seperti menurunnya kualitas hidup, dan waktu cuti dari sekolah dan kerja yang memanjang, masalah psikologis seperti ansietas dan depresi, malnutrisi. 

PROGNOSIS

  • Keluhan akan membaik dan hilang setelah 12 bulan pada 50% kasus, dan hanya kurang dari 5 %yang akan memburuk, dan sisanya dengan gejala menetap 

Referensi

  • Owyang C. Irritable bowel syndrome. In: Kasper, Braunwald, Fauci et al. Harrison’s Principles of Internal Medicine volll 17th ed. McGrawHill. 2008 pg 1899-1903.
  • Ferri Fred F. Irritable bowel syndrome. Ferri’s Clinical Advisor 2008, 1Oth ed. Mosby. 2008.
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s